Inovasi Pertanian Indonesia menuju Kedaulatan Pangan

LAN Jakarta- Kedaulatan pangan adalah hak setiap bangsa dan setiap rakyat untuk memproduksi pangan secara mandiri dan hak untuk menetapkan sistem pertanian, peternakan, dan perikanan tanpa adanya subordinasi dari kekuatan pasar internasional. Dalam perkembangannya, perjuangan mewujudkan kedaulatan pangan ini semakin massif. Salah satu momentum penting dalam perjuangan kedaulatan pangan ini terjadi pada Juni 2002, pada pertemuan World Food Summit Five Years Later di Roma. Dalam pertemuan ini sejumlah organisasi sosial yang mewakili petani kecil, buruh tani, nelayan, masyarakat adat bersama sejumlah NGO membentuk International Planning Committee for Food Sovereignty (IPC). IPC berperan untuk memfasilitasi dialog antara masyarakat sipil dan FAO dalam mewujudkan kedaulatan pangan.

Dalam realisasinya, kedaulatan pangan akan tercapai apabila petani sebagai penghasil pangan memiliki, menguasai dan mengkontrol alat-alat produksi pangan seperti tanah, air, benih dan teknologi serta berbagai kebijakan yang mendukungnya dalam bingkai pelaksanaan pembaruan agraria. Program tersebut hendaknya dijalankan dengan sungguh-sungguh sembagai upaya untuk melepas ketergantungan terhadap perusahaan-perusahaan transnasional penghasil input pertanian.

Sesuai dengan visi Kementerian Pertanian tahun 2015-2019 yaitu terwujudnya kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani, maka Kementan mempunyai sasaran program yang tidak hanya untuk peningkatkan produksi semata, aspek yang berkaitan dengan pendapatan dan kesejahteraan petani juga akan menjadi perhatian. Untuk mewujudkan program tersebut, pemerintah memberikan dukungan inovasi untuk mewujudkan pertanian yang modern guna meningkatkan produktifitas yang tinggi, efisiensi produksi yang tinggi yaitu dengan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk dan pestisida yang efisien. Optimalisasi SDP (lahan, air dan tenaga kerja), adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dan ramah lingkungan, presisi yang tinggi dari hulu sampai hilir dengan spesifikasi lokasi, penanganan prosesing panen dan pascapanen, menghasilkan produk bermutu dan aman, nilai tambah produk, serta manajemen serba cukup dan berkelanjutan.

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Herry Suhardiyanto menyoroti tiga hal terkait pembangunan pertanian, yaitu masalah inovasi di mana usaha tani harus harus optimal, modern dan terkonsolidasi. Untuk itu, dibutuhkan ketekunan dari hulu dan hilir melalui usaha yang komprehensif. Yang kedua perhatian kepada potensi industri pengolahan produk pertanian dan ketiga kesejahteraan petani. Inovasi sangat penting untuk digarap. Inovasi bisa dilakukan melalui varietas unggul, teknologi pasca panen. (Reza-P2IPK)